Rabu, 14 Maret 2012

OCD "obsessive compulsive disorder"




A Mindfulness-Based Treatment of Obsessive-Compulsive Disorder

Abstrak
Mereka yang menderita gangguan obsesif-kompulsif (OCD), sebagian besar tidak merespon dengan baik terhadap pengobatan yang standar dari dua percobaan Serotonin reuptake inhibitor (SRI) dan Cognitive behavioral therapy (CBT) . Selain menjadi refrakter terhadap pengobatan, orang-orang yang memiliki gangguan ini dapat  mempengaruhi kualitas hidup mereka. Para penulis menyajikan kasus  seorang individu yang dibantu untuk meningkatkan kualitas hidupnya dengan menerima dirinya adalah seorang OCD dan sebagai kekuatan serta meningkatkan kesadaran sehingga dia mampu memasukkan  OCD-nya dalam kehidupan sehari-hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dia berhasil mengatasi OCD nya, melemahkan dan ini diperoleh dari semua pengobatan dalam waktu 6 bulan intervensi. Tiga tahun pasca intervensi tindak lanjut menunjukkan bahwa dia sehat, memiliki gaya hidup sehat meskipun tetap ada beberapa pikiran obsesif, mereka tidak mengontrol perilakunya.

Inti Kasus
Janice berusia 25 tahun, seorang Kaukasia. Dia mengalami OCD ‘bebersih’, selalu membersihkan dirinya dan ruangannya. Ketakutan akan kuman yang membuatnya selalu bebersih. Menurutnya kuman dapat membuatnya sakit bahkan mati. Janice sangat peduli akan kebersihan, ini didapat dari ibunya. Saat usianya 10 tahun, adiknya meninggal dunia, dan dia percaya bahwa kepergian adiknya dikarenakan dirinya. Waktu itu setelah dia bermain di taman, dia memegang adiknya dengan tangannya yang kotor, untuk menghentikan tangisan adiknya. Beberapa hari kemudian adiknya meninggal dunia. Sejak saat itu Janice selalu merasa takut akan kuman.

Dokter pribadi keluarganya menyatakan bahwa Janice mengalami OCD dan memerlukan pengobatan Serotonin reuptake inhibitor (SRI). Seiring waktu, intensitas frekuensi OCD-nya menjadi sering dan sulit baginya untuk mengontrol dengan obat-obatan. Bila hanya dengan obat, itu sangat  tidak efektif, dia juga menerima adjunctive psychology therapy. Dia pernah dirawat di rumah sakit jiwa sebanyak  empat kali karena OCD-nya pada tahun lalu. Dia diobati dengan obat dan Cognitive behavioral therapy  (CBT), dan distabilkan. Rawat inap saat ini adalah yang kelima karena dia benar-benar suda lemah kerena OCD-nya, sejauh ini  dia tidak dapat meninggalkan kamarnya selain untuk mengurus kebersihan dirinya karena dorongan kecemasannya yang tinggi.

Analisis :     
Janice termasuk abnormal. Jika dalam PPDGJ-III termasuk mengalami gangguan obsesif- kompulsif. Karena penderita mengalami distress sehingga mengganggu aktivitas penderita. Hampir setiap saat Janice mencuci tangannya, karena selalu merasa cemas akan kuman. Janice takut jika kuman tersebut bisa membunuh dirinya ataupun oranglain.
Gangguan Obsesif-kompulsif (Obsessive-Compulsive Disorder, OCD) adalah kondisi dimana individu tidak mampu mengontrol dari pikiran-pikirannya yang menjadi obsesi yang sebenarnya tidak diharapkannya dan mengulang beberapa kali perbuatan tertentu untuk dapat mengontrol pikirannya tersebut untuk menurunkan tingkat kecemasannya. Gangguan obsesif-kompulsif merupakan gangguan kecemasan dimana dalam kehidupan individu didominasi oleh repetatif pikiran-pikiran (obsesi) yang ditindaklanjuti dengan perbuatan secara berulang-ulang (kompulsi) untuk menurunkan kecemasannya. Penderita gangguan ini mungkin telah berusaha untuk melawan pikiran-pikiran menganggu tersebut yang timbul secara berulang-ulang akan tetapi tidak mampu menahan dorongan melakukan tindakan berulang untuk memastikan segala sesuatunya baik-baik saja.

Penyebab obsesif-kompulsif ini bisa terjadi karena :
·         Genetik - (Keturunan). Mereka yang mempunyai anggota keluarga yang mempunyai sejarah penyakit ini kemungkinan beresiko mengalami OCD (Obsesif Compulsive Disorder). 
·         Kepribadian - Mereka yang mempunyai kepribadian obsesif lebih cenderung mendapat gangguan OCD. Ciri-ciri mereka yang memiliki kepribadian ini ialah seperti keterlaluan mementingkan aspek kebersihan, seseorang yang terlalu patuh pada peraturan, cerewet, sulit bekerja sama dan tidak mudah mengalah. 
·         Pengalaman masa lalu - Pengalaman masa lalu/lampau juga mudah mencorakkan cara seseorang menangani masalah di antaranya dengan menunjukkan gejala OCD.


TREATMENT/PENANGANAN
Psikoterapi.
Treatment psikoterapi untuk gangguan obsesif-kompulsif umumnya diberikan hampir sama dengan gangguan kecemasan lainnya. Ada beberapa faktor OCD sangat sulit untuk disembuhkan, penderita OCD kesulitan mengidentifikasi kesalahan (penyimpangan perilaku) dalam mempersepsi tindakannya sebagai bentuk penyimpangan perilaku yang tidak normal. Individu beranggapan bahwa ia normal-normal saja walaupun perilakunya itu diketahui pasti sangat menganggunya. Baginya, perilaku kompulsif tidak salah dengan perilakunya tapi bertujuan untuk memastikan segala sesuatunya berjalan dengan baik-baik saja. Faktor lain adalah kesalahan dalam penyampaian informasi mengenai kondisi yang dialami oleh individu oleh praktisi secara tidak tepat dapat membuat individu merasa enggan untuk mengikuti terapi.
Cognitive-behavioural therapy (CBT) adalah terapi yang sering digunakan dalam pemberian treatment pelbagai gangguan kecemasan termasuk OCD. Dalam CBT penderita OCD pada perilaku mencuci tangan diatur waktu kapan ia mesti mencuci tangannya secara bertahap. Bila terjadi peningkatan kecemasan barulah terapis memberikan izin untuk individu OCD mencuci tangannya. Terapi ini efektif menurunkan rasa cemas dan hilang secara perlahan kebiasaan-kebiasaannya itu.
Dalam CBT terapis juga melatih pernafasan, latihan relaksasi dan manajemen stres pada individu ketika menghadapi situasi konflik yang memberikan kecemasan, rasa takut atau stres muncul dalam diri individu. Pemberian terapi selama 3 bulan atau lebih.
Farmakologi
Pemberian obat-obatan medis berserta psikoterapi sering dilakukan secara bersamaan dalam masa perawatan penderita OCD. Pemberian obat medis hanya bisa dilakukan oleh dokter atau psikiater atau social worker yang terjun dalam psikoterapi. Pemberian obat-obatan haruslah melalui kontrol yang ketat karena beberapa dari obat tersebut mempunyai efek samping yang merugikan. Obat medis yang digunakan dalam pengobatan OCD seperti; Serotonin reuptake inhibitor (SRI).

Gangguan abnormalitas :
*      Disfungsi psikologis yaitu individu abnormal dimana individu tersebut tidak dapat menjalankan perannya. Ada 3 kriteria individu yaitu kognitif, afektif dan konatif.
  1. Secara kognitif : Janice merasa cemas akan kebersihan, kehawatiran akan kuman-kuman yang dapat membuatnya sakit bahkan bisa menyebabkan kematian untuk dirinya ataupun oranglain. Saat dia telah melakukan sesuatu atau ada sesorang menyentuh barang-barangnya, dia langsung membersihkan dirinya dan membersihkan barang-barangnya.
  2. Secara afektif : Janice selalu merasa bersalah karena dia beranggapan bahwa kematian adiknya disebabkan oleh dirinya. Saat itu janice berusaha menghentikan tangisan adiknya dengan keadaan tangan yang kotor. Beberapa hari kemudian adiknya meninggal. Sehingga sejak kejadian itu, Janice merasa dirinya ‘harus selalu’ dalam kedaan bersih.
  3. Secara konatif : Jasice menghindari aktivitas yang menurutnya akan membuat dirinya kotor, karena itu akan mengancam dirinya. Janice juga melakukan cuci tangan hingga berulang kali.
*      Distress (impairment) hendaya. Secara fisik : Janice mengalami kelelahan karena selalu malakukan bebersih.. Secara psikis : Janice merasa cemas saat dia bersosialisasi, karena dia khawatir akan terkena kuman. Dan situasi ini membuat Janice tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan baik.

*      Respon atipikal. Janice selalu merasa cemas sehingga dia harus selalu membersihkan dirinya, ruangannya dan barang-barangnya. Dan ini membuatnya tidak dapat melakukan aktivitas yang baik sehari-harinya.  Dalam kasus OCD ini, hal ini tidak wajar, biasanya orang-orang normal tidak melakukan cuci tangan berulang kali,  dan bagaimana pun juga Janice harus melakukan aktivitas sehari-hari yang setiap orang lakukan.




Sumber : 
  1. Jurnal "A Mindfulness-Based Treatment of Obsessive-Compulsive Disorder", NIRBHAY N. SINGH-ONE Research Institute, ROBERT G. WAHLER-University of Tennessee, Knoxville, ALAN S. W. WINTON-Massey University, ANGELA D. ADKINS-Western State Hospital, THE MINDFULNESS RESEARCH GROUP. Clinical Case Studies/2004.
  2. PPDGJ-III 

3 komentar:

  1. Thanks Rujukannya, boleh minta rujukan jurnalnya kah? di website atau dimana. :)

    BalasHapus
  2. saya kalau habis kencing selalu menghabiskan banyak air dalam bercebok, karena saya merasa khawatir jika air kencingnya ada yang keluar lagi, jadi saya selalu mengulang-ulang ketika ceboknya karena merasa ada yang keluar lagi lah sisa kencingnya , takut tidak sah wudhu dan sholatnya dan juga takut pakaiannya menjadi najis . begitu jg ketika akan sholat saya sealu mengecek dulu apa ada yang keluar dari depan atau tidak, takut tidak sah wudhu dan sholatnya. apakah ini termasuk OCD jg? bagaimana cara mengatasinya? terima kasih banyak

    BalasHapus
  3. Saya Arief, pendiri Komunitas Bebas OCD Indonesia. Komunitas kami memiliki forum komunikasi di Whatsapp. Bagi teman-teman yang memiliki masalah OCD dan ingin dimasukkan ke forum tsb, silakan kirim pesan Whatsapp ke saya di 0812 8888 2464. No phone call please. Terima kasih.

    BalasHapus