Rabu, 14 Maret 2012

POLA ASUH PATOGENIK

 



Pola Asuh patogenik adalah pola asuh yang salah, yang kurang sesuai untuk mendidik anak sehingga akan mempengaruhi diri individu anak tersebut. 
  1. Melindungi anak secara berlebihan karena memanjakannya
Misalnya orangtua selalu mengikuti kemanapun anak pergi atau selalu menemani setiap kegiatannya.
Pengaruh terhadap perkembangan kepribadian anak dan sifat atau sikap yang mungkin timbul: Hanya memikirkan dirinya sendiri, hanya tahu menuntut saja, kurang bertanggung jawab, lekas berkecil hati, tidak tahan kekecewaan, ingin menarik perhatian pada dirinya sendiri, cenderung menolak peraturan dan minta dikecualikan.
  2.  Melindungi anak secara berlebihan karena sikap “berkuasa” dan “harus tunduk saja”
Misalnya orang tua yang terlalu otoriter yang mengharuskan anak untuk mematuhi aturan-aturan yang berlaku. Jadi, anak harus mengikuti kemauan orangtuanya.
Pengaruh terhadap perkembangan kepribadian anak dan sifat atau sikap yang mungkin timbul: Kurang berani dalam pekerjaan, condong menjadi lekas menyerah. Bersikap pasif dan bergantung pada orang lain. Ingin menjadi “anak emas” dan menerima saja segala perintah. 
  3. Penolakan (rejected child)
Misalnya orang tua yang tidak terlalu menginginkan anak yang terlahir di dunia ini sehingga anak menjadi bingung dan merasa ditolak kehadirannya oleh orangtuanya yang akan menyebabkan ketidakpercayaan terhadap orang tua, keluarga dan lingkungan.
Pengaruh terhadap perkembangan kepribadian anak dan sifat atau sikap yang mungkin timbul: Merasa gelisah dan diasingkan. Bersikap melawan orang tua dan mencari bantuan kepada orang lain. Tidak mampu memberi dan menerima kasih sayang.
  4.  Menentukan norma-norma etika dan moral yang terlalu tinggi
Misalnya orang tua yang menanamkan bahwa nilai religiusitas lebih diutamakan dan harus menaatinya. Serta ada etika dan Moral yang harus dibentuk untuk menghargai keberadaan orangtua.
Pengaruh terhadap perkembangan kepribadian anak dan sifat atau sikap yang mungkin timbul: Menilai dirinya dan hal lain juga dengan norma yang terlalu keras dan tinggi, sering kaku dan keras dalam pergaulan. Cenderung menjadi sempurna (perfeksionisme) dengan cara yang berlebihan. Lekas merasa bersalah, berdosa, dan tidak berarti.
  5.  Disiplin yang terlalu keras
Misalnya antara belajar dan bermain, waktu bermain lebih sedikit dibandingkan belajar. Bermain hanya diberikan waktu satu jam, sedangkan selebih itu belajar.
Pengaruh terhadap perkembangan kepribadian anak dan sifat atau sikap yang mungkin timbul: Menilai dan menuntut dirinya terlalu keras, agar dapat meneruskan dan menyelesaikan sesuatu usaha dengan baik, diperlukannya sikap menghargai yang tinggi dari luar.
  6. Disiplin yang tidak teratur atau yang bertentangan
Misalnya dari pihak ayah mengizinkan boleh pulang malam asal ada alasan yang tepat, namun dari pihak ibu melarangnya daripada pulang terlalu malam nggak enak diliat sama tetangga anak gadis lebih baik pulang sebelum adzan magrib. Hal ini akan membuat anak semakin bingung untuk menentukan pilihan yang mana yang didengarkan.
Pengaruh terhadap perkembangan kepribadian anak dan sifat atau sikap yang mungkin timbul: Sikap anak terhadap nilai dan norma pun tidak teratur, kurang tetap dalam menghadapi berbagai persoalan, didorong kesana kemari antara berbagai nilai yang bertentangan.
  7. Perselisihan antara ayah-ibu
Misalnya Orangtua bertengkar dihadapan anak-anaknya tanpa memahami perasaan anak-anaknya.
Pengaruh terhadap perkembangan kepribadian anak dan sifat atau sikap yang mungkin timbul: Bergelisah hati terus-menerus, berkurangnya rasa dirinya akan terjamin dan rasa disayangi (yang sangat diperlukan oleh setiap anak). Cenderung menafsirkan orang lain sebagai bahaya, sehingga bersikap bermusuhan dan agresif.
  8. Perceraian
Anak yang menjadi korban perceraian tentu akan membawa dampak yang drastis mulai dari yang awalnya periang menjadi pendiam dan anak akan merasakan kehilangan sesuatu dari figur seorang ayah atau seorang ibu.
Pengaruh terhadap perkembangan kepribadian anak dan sifat atau sikap yang mungkin timbul: Rasa setianya berlawanan, berpindah-pindah dari ibu ke ayah dan sebaliknya. Timbul perasaan dirinya terasing, gelisah, dan cemas.
  9. Persaingan yang kurang sehat diantara para saudaranya (sibling rivalry)
Misalnya persaingan antara kakak dan adik dalam sebuah keluarga. Dimana Orangtua lebih membanggakan sang kakak karena prestasi akademiknya bagus sedangkan sang adik prestasi akademiknya biasa-biasa saja. Sehingga orangtua selalu membandingkan antara sang kakak dengan sang adik.
Pengaruh terhadap perkembangan kepribadian anak dan sifat atau sikap yang mungkin timbul: Timbul sifat bermusuhan, merasa kurang aman, serta terancam terus-menerus. Kurang percaya pada diri sendiri, tingkah lakunya menyerupai anak di bawah umur
  10. Nilai-nilai yang buruk (yang tidak bermoral)
Misalnya Anak seringkali merekam dan meniru apa yang dilakukan oleh orang tua. Jika orang tua memberikan nilai-nilai yang buruk seperti berkata-kata yang tidak pantas sehingga mengeluarkan kata-kata binatang.
Pengaruh terhadap perkembangan kepribadian anak dan sifat atau sikap yang mungkin timbul: Anak mengambil alih dan nilai yang buruk itu. Timbul berbagai persoalan dan kesukaran, sehingga sangat memungkinkan terjadinya pelanggaran hukum.
  11. Perfeksionisme dan ambisi (cita-cita yang terlalu tinggi bagi si anak)
Misalnya Orang tua yang terlalu menuntut anaknya menjadi a b c d dst tanpa ditunjang oleh minat bakat diri anaknya akan mendapat tekanan-tekanan yang jika tidak berhasil akan berakibat depresi atau stress. Anak yang menuntut dirinya sendiri menjadi seorang yang perfect pun itu kurang begitu baik.
Pengaruh terhadap perkembangan kepribadian anak dan sifat atau sikap yang mungkin timbul: Anak pun mengalami over prefeksionisme itu. Demikian ia akan gagal dalam mengejar cita-cita yang sudah melampaui batas kemampuannya, dan mengalami kekecewaan, merasa dirinya bersalah, berdosa dan tidak berarti apa-apa lagi. Mudah timbul reaksi depresi (rasa sedih yang terlalu keras dan terlalu lama).
  12. Ayah dan atau ibu mengalami gangguan jiwa (psikotik atau non-psikotik)
Misalnya Anak yang memiliki orang tua yang mengalami gangguan jiwa akan cenderung membawa indikasi hambatan psikologis dalam kehidupan sehari-harinya. Karena anak menjadi kurang mendapatkan kasih sayang dari orangtuanya yang mengalami gangguan kejiwaan.
Pengaruh terhadap perkembangan kepribadian anak dan sifat atau sikap yang mungkin timbul: Anak condong mewarisi segala gangguan jiwa itu yang dapat berupa kecemasan, keyakinan yang tak  berdasarkan kenyataan atau prasangka. Semua ini akan menghambat perkembangan kepribadian anak itu.



Sumber :
Catatan psikologi abnormal oleh Ibu Zarina Akbar




Tidak ada komentar:

Posting Komentar